MENJADI GURU YANG DI IDOLAKAN
Pendidikan diperlukan oleh semua
orang. Baik dari golongan anak-anak, remaja maupun dewasa. Tidak tebatas dari
pendidikan akal, akan tetapi juga memerlukan pendidikan dalam bidang akhlaq,
hati dan sosial kemasyarakatan.
Jika hidup, dan semua orang memerlukan pendidikan yang erat kaitannya
dengan kehidupan, maka factor penting, bahkan menjadi baik tidaknya pendidikan,
adalah guru. Benar sekali guru bukanlah satu-satunya instrument pendidikan.
Masih ada buku, kurikulum, dan peletak kebijakan pendidikan dan seterusnya.
Akan tetapi dari instrument-instrumen itu semua, gurulah ujung tombaknya.
Ibarat permainan sepak bola yang terdiri dari kesebelasan- kesebelasan, guru
adalah striker yang berperan mencetak gol, yaitu tujuan dari kesebelasan yang
bermain sepak bola. Striker mandul, maka bola tidak akan dapat masuk ke gawang
lawan dan gol tak akan di cetak. Guru mandul, maka pendidikan akan rendah
hasilnya.
Kesalahan besar dilakukan oleh orang yang mengira bahwa mengajar hanyalah
sekedar profesi resmi. Pandangan sempit ini adalah ke-dzalim-an dan
pelecehan besar terhadap profesi guru.
Perhatian seorang guru dalam dunia pendidikan adalah prioritas. Guru
memikul tugas dan tanggung jawab yang tidak ringan. Di sisi lain dia harus
menjadikan muridnya pandai secara akal, dia juga harus dapat menanamkan
nilai-nilai iman dan akhlak yang mulia. Untuk itu guru harus memahami peran dan
tugasnya, memahami kendala-kendala pendidikan dan cara mengatasinya.
Dalam bukunya DR. Muhammad Abdullah Ad-Duweisy bahwa seorang guru harus
memiliki sifat-sifat positif. diantaranya:
1.
Ikhlas hanya kepada Allah
Tujuan pertama seorang guru dalam mendidik dan
mengajar murid-muridnya adalah mencari keridloan Allah taala, menyebarkan ilmu,
selalu menegakkan kebenaran, memadamkan kebatilan, menjaga kebaikan bagi umat. Hadlrotus
syaikh Muhammad Hasyim Asyari menambahkan dalam kitabnya Adabul ‘alim wal
mutaalim bahwa seorang guru hendaknya selalu mendekatkan diri kepada Allah,
dan menjaga perilakunya hanya karena Allah.
2.
Taqwa dan Ibadah
Jika seorang guru mempunyai ketaqwaan, maka dia tidak
akan sembrono dalam mendidik siswa-siswinya. Tidak akan suka membolos dan
selalu menjaga amanat yang telah diberikan kepadanya. Dan juga tingkatan
ibadahnya akan tercerminkan dalam perilaku keseharian dalam proses pendidikan,
rajin dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang
pendidik (guru).
3.
Mendorong dan memacu murid
dalam mencari ilmu.
Menanamkan kecintaan dan perhatian kepada ilmu
termasuk sifat penting yang mesti dimiliki seorang guru. Ia merupakan nasihat
ulama’ terdahulu kepada para guru. Imam Nawawi dalam Al-majmu’ Syarhul
mahadzab berkata, hendaknya guru mendorong muridnya mencintai ilmu,
mengingatkannya terhadap keutamaan para ulama dan bahwa mereka adalah pewaris
para Nabi. Az-zarnuzi menambahkan bahwa Muhammad bin Hasan bin Abdillah
memerintahkan untuk selalu mencari ilmu setiap hari, agar ilmu itu selalu
bertambah. Sehingga bertambah pula faedah-faedahnya.
Mendorong dan memacu murid untuk mencintai ilmu tidak
hanya dengan satu cara akan tetapi banyak cara yang dapat dilakukan, misalnya
dengan memberikan kisah-kisah ulama yang tanpa mengenal lelah dalam mencari
ilmu, menjelaskan bahwa Allah mengangkat kedudukan orang yang mencari ilmu.
4.
Berpenampilan baik.
Pepatah jawa mengatakan ajining rogo soko busono.
Pepatah ini memberikan pengertian bahwa seseoarang akan dilihat, diperhatikan
dan di hargai dari apa yang dipakainya. Tidak harus bagus atupun baru akan
tetapi mengandung unsur kerapian.
Seorang guru juga harus seperti itu, bahwa harus
memberi perhatian terhadap penampilan dalam batas yang proporsional dan tidak
boleh asal-asalan. Syaikh Muhammad Hasyim Asyari menambahkan bahwa seorang guru
yang hendak hadir dalam kelas hendaknya bersuci dari hadast, membersihkan
dirinya, memakai minyak wangi, dan memakai pakaian yang baik. Berangkat ke
sekolah hanya mengenakan kaos oblong, jelas itu akan mengganggu dan akan
menjatuhkan harga dirinya dihadapan murid-murid.
5.
Berbicara dengan baik.
Lisan dan pembicaraan merupakan salah satu barometer
penilaian terhadap kepribadian seseorang. Untuk itu kewajiaban seorang guru
adalah menjaga lisan dan pembicaraannya. Sehingga dalam proses belajar mengajar
siswa-siswinya tidak merekam dari dirinya kecuali yang baik. Seperti pepatah
jawa yang mengatakan “Ajining diri onok ing latih”.
6.
Berkepribadian matang dan
terkontrol
Kematangan diperlukan oleh orang yang kepribadiaannya
dihormati dan dai hargai orang lain, terlebih lagi seorang guru yang menjadi
teladan murid-muridnya. Orang yang tidak matang kepribadiannya, perilaku mereka
mengisayaratkan adanya kekurangan pada akal. Orang yang seperti itu membuat
murid-murid mencemooh dan melecehkannya.
7.
Keteladanan yang baik.
Banyak orang yang bisa mengarahkan dan berbicara
dengan baik, akan tetapi berapa di antara mereka yang berprofesi sebagai guru
yang bisa menjadi teladan pada tingkah lakunya?. Kontradiksi antara ucapan dan
perbuatan, lahir dan batin, semrawut dan rancunya pengajaran, semua ini
merupakan masalah terbesar generasai masa kini.
Seorang guru yang menjelaskan di depan murid- muridnya
tentang pentinganya sholat dan menjaga sholat. Tetapi ketika sholat dilakukan
disekolah, murid-,urid melihat dia di shaf paling akhir. Atau dia mendorong
murid-muridnya untuk dapat datang tepat waktu, tetapi kemudian dia hadir
terlambat. Maka kata-kata yang dia tuangkan ke telinga murid akan terhapus
dengan satu perbuatan.
8.
Memenuhi janji
Ketika seorang guru menjanjikan suatu hadiah atau
sesuatu, maka bersungguh-sungguh dan memenuhi janji adalah suatu keharusan.
Jika ada penghalang atau tidak bisa memenuhinya dengan segera, maka meminta
maaf dengan baik akan dapat mengobati kekecewaan. Karena bagaimanapun janji
adalah hutang.
9.
Berperan memperbaiki sistem
pengajaran.
Seorang guru yang bersungguh-sungguh dan ikhlas merasa
bahwa tugasnya tikad hanya terbatas pada apa yang ia berika di kelas. Meskipun
tanggung jawab terhadap sistem pengajaran, kurikulum, dan perkara-perkara yang
bekaitan dengannya bukanlah berada dipundaknya. Hanya saja, hal itu tidak
otomatis membebaskan dari peran serta dan uasaha perbaikan.
Jika dalam pengajarannya murid-murid mempunyai
permasalahan seperti mengantuk, gurau, merasa tidak mampu dengan apa yang
disampaikan guru, maka seorang guru harus cepat tanggap dengan apa yang terjadi
sehingga dapat dicari penyelesaiannya dengan baik.
10. Bergaul secara baik dengan murid
Murid adalah obyek dan sasaran utama dari proses
aktifitas belajar mengajar dan pendidikan. Oleh karena itu, dialah unsur utama
yang dengannya seorang guru berinteraksi. Kurikulum, sistem pengajaran dan lain
sebagainya, dibuat untuk merealisasikan tujuan pengajaran dan pendidkan bagi
murid. Berpijak pada posisi murid dalam proses belajar mengajar, maka perlu
diletakkan garis-garis besar dan kaidah-kaidah berinteraksi dengan murid agar
tujuan pengajaran dan pendidikan bisa terealisasikan.
Kebaikan dan interaksi guru merupakan kata yang luas
yang meliputi, menghormati dan menghargai murid, memuji murid yang berbuat
baik, berperilaku adil di antara murid-murid, proporsional dalam mengoreksi
kesalahan dan memberi perhatian pada murid. Sehingga dalam pelaksanaan
pembelajaran dapat berjalan dengan baik.
11. Rendah hati ( tawadhu’)
Mengajar merupakan salah-satu peluang untuk menjadi
tinggi dan terkenal. Seorang guru bisa saja dipenuhi leh peasaan bangga, tinggi
hati, terutama sifat ujub. Oleh karena itu Hadlrotus syaikh Muhammad Hasyim
Asyari dalam kitabnya Adabul ‘alim wal mutaalim menekankan untuk selalu
bersikap rendah hati ( tawadhu’).
12. Selalu mendoakan kebaikan untuk murid-muridnya.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu
tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan
permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah
mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku,
agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”(QS Al-Baqoroh 2:186)
Allah menganjurkan kepada umat Islam dan orang orang
yang beriman untuk senantiasa berdoa, karena doa merupakan bentuk keyakinan
diri bahwa tidak ada satu makhluk pun yang dapat mendapatkan apa yang
diinginkannya kecuali atas idzin Allah. Begitu juga seorang guru, seyogyanya
selalu mendoakan murid-muridnya agar selalu dalam lindungan Allah, dan menjadi
manusia yang pintar baik akal, hati dan social. Sehingga tujuan pendidikan
dapat tercapai dengan maksimal.
Mukhtar Zaini Dahlan
Mahasiswa Pasca Sarjana STAIN Jember
Referensi:
Abdullah, Adduweisy, DR Muhammad. 2008. Edisi
Indonesia_ Menjadi guru yang sukses dan berpengaruh. Surabaya :
pustaka ElBA .
Affandi, Choer. 2008. La Tahzan Innallaha Maana.
Bandung :
Mizania.
Az- Zarnuzi,
Syaikh. Ta’limul muta’alimi. Surabaya :
Al-hidayah
Hasyim, Muhammad Asyari. Adabul Alim wal Muta’alim.
Jombang: Maktabah Turost Al-Islami.
Nawawi. Al-majmu’ Syarhul Muhadzab. Surabaya : Al-hidayah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar