Label

Selasa, 02 Oktober 2012


MENJADI GURU YANG DI IDOLAKAN
            Pendidikan diperlukan oleh semua orang. Baik dari golongan anak-anak, remaja maupun dewasa. Tidak tebatas dari pendidikan akal, akan tetapi juga memerlukan pendidikan dalam bidang akhlaq, hati dan sosial kemasyarakatan.
Jika hidup, dan semua orang memerlukan pendidikan yang erat kaitannya dengan kehidupan, maka factor penting, bahkan menjadi baik tidaknya pendidikan, adalah guru. Benar sekali guru bukanlah satu-satunya instrument pendidikan. Masih ada buku, kurikulum, dan peletak kebijakan pendidikan dan seterusnya. Akan tetapi dari instrument-instrumen itu semua, gurulah ujung tombaknya. Ibarat permainan sepak bola yang terdiri dari kesebelasan- kesebelasan, guru adalah striker yang berperan mencetak gol, yaitu tujuan dari kesebelasan yang bermain sepak bola. Striker mandul, maka bola tidak akan dapat masuk ke gawang lawan dan gol tak akan di cetak. Guru mandul, maka pendidikan akan rendah hasilnya.
Kesalahan besar dilakukan oleh orang yang mengira bahwa mengajar hanyalah sekedar profesi resmi. Pandangan sempit ini adalah ke-dzalim-an dan pelecehan besar terhadap profesi guru.
Perhatian seorang guru dalam dunia pendidikan adalah prioritas. Guru memikul tugas dan tanggung jawab yang tidak ringan. Di sisi lain dia harus menjadikan muridnya pandai secara akal, dia juga harus dapat menanamkan nilai-nilai iman dan akhlak yang mulia. Untuk itu guru harus memahami peran dan tugasnya, memahami kendala-kendala pendidikan dan cara mengatasinya.
Dalam bukunya DR. Muhammad Abdullah Ad-Duweisy bahwa seorang guru harus memiliki sifat-sifat positif. diantaranya:
1.      Ikhlas hanya kepada Allah
Tujuan pertama seorang guru dalam mendidik dan mengajar murid-muridnya adalah mencari keridloan Allah taala, menyebarkan ilmu, selalu menegakkan kebenaran, memadamkan kebatilan, menjaga kebaikan bagi umat. Hadlrotus syaikh Muhammad Hasyim Asyari menambahkan dalam kitabnya Adabul ‘alim wal mutaalim bahwa seorang guru hendaknya selalu mendekatkan diri kepada Allah, dan menjaga perilakunya hanya karena Allah.
2.      Taqwa dan Ibadah
Jika seorang guru mempunyai ketaqwaan, maka dia tidak akan sembrono dalam mendidik siswa-siswinya. Tidak akan suka membolos dan selalu menjaga amanat yang telah diberikan kepadanya. Dan juga tingkatan ibadahnya akan tercerminkan dalam perilaku keseharian dalam proses pendidikan, rajin dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pendidik (guru).
3.      Mendorong dan memacu murid dalam mencari ilmu.
Menanamkan kecintaan dan perhatian kepada ilmu termasuk sifat penting yang mesti dimiliki seorang guru. Ia merupakan nasihat ulama’ terdahulu kepada para guru. Imam Nawawi dalam Al-majmu’ Syarhul mahadzab berkata, hendaknya guru mendorong muridnya mencintai ilmu, mengingatkannya terhadap keutamaan para ulama dan bahwa mereka adalah pewaris para Nabi. Az-zarnuzi menambahkan bahwa Muhammad bin Hasan bin Abdillah memerintahkan untuk selalu mencari ilmu setiap hari, agar ilmu itu selalu bertambah. Sehingga bertambah pula faedah-faedahnya.
Mendorong dan memacu murid untuk mencintai ilmu tidak hanya dengan satu cara akan tetapi banyak cara yang dapat dilakukan, misalnya dengan memberikan kisah-kisah ulama yang tanpa mengenal lelah dalam mencari ilmu, menjelaskan bahwa Allah mengangkat kedudukan orang yang mencari ilmu.
4.      Berpenampilan baik.
Pepatah jawa mengatakan ajining rogo soko busono. Pepatah ini memberikan pengertian bahwa seseoarang akan dilihat, diperhatikan dan di hargai dari apa yang dipakainya. Tidak harus bagus atupun baru akan tetapi mengandung unsur kerapian.
Seorang guru juga harus seperti itu, bahwa harus memberi perhatian terhadap penampilan dalam batas yang proporsional dan tidak boleh asal-asalan. Syaikh Muhammad Hasyim Asyari menambahkan bahwa seorang guru yang hendak hadir dalam kelas hendaknya bersuci dari hadast, membersihkan dirinya, memakai minyak wangi, dan memakai pakaian yang baik. Berangkat ke sekolah hanya mengenakan kaos oblong, jelas itu akan mengganggu dan akan menjatuhkan harga dirinya dihadapan murid-murid.
5.      Berbicara dengan baik.
Lisan dan pembicaraan merupakan salah satu barometer penilaian terhadap kepribadian seseorang. Untuk itu kewajiaban seorang guru adalah menjaga lisan dan pembicaraannya. Sehingga dalam proses belajar mengajar siswa-siswinya tidak merekam dari dirinya kecuali yang baik. Seperti pepatah jawa yang mengatakan “Ajining diri onok ing latih”.
6.      Berkepribadian matang dan terkontrol
Kematangan diperlukan oleh orang yang kepribadiaannya dihormati dan dai hargai orang lain, terlebih lagi seorang guru yang menjadi teladan murid-muridnya. Orang yang tidak matang kepribadiannya, perilaku mereka mengisayaratkan adanya kekurangan pada akal. Orang yang seperti itu membuat murid-murid mencemooh dan melecehkannya.
7.      Keteladanan yang baik.
Banyak orang yang bisa mengarahkan dan berbicara dengan baik, akan tetapi berapa di antara mereka yang berprofesi sebagai guru yang bisa menjadi teladan pada tingkah lakunya?. Kontradiksi antara ucapan dan perbuatan, lahir dan batin, semrawut dan rancunya pengajaran, semua ini merupakan masalah terbesar generasai masa kini.
Seorang guru yang menjelaskan di depan murid- muridnya tentang pentinganya sholat dan menjaga sholat. Tetapi ketika sholat dilakukan disekolah, murid-,urid melihat dia di shaf paling akhir. Atau dia mendorong murid-muridnya untuk dapat datang tepat waktu, tetapi kemudian dia hadir terlambat. Maka kata-kata yang dia tuangkan ke telinga murid akan terhapus dengan satu perbuatan.
8.      Memenuhi janji
Ketika seorang guru menjanjikan suatu hadiah atau sesuatu, maka bersungguh-sungguh dan memenuhi janji adalah suatu keharusan. Jika ada penghalang atau tidak bisa memenuhinya dengan segera, maka meminta maaf dengan baik akan dapat mengobati kekecewaan. Karena bagaimanapun janji adalah hutang.
9.      Berperan memperbaiki sistem pengajaran.
Seorang guru yang bersungguh-sungguh dan ikhlas merasa bahwa tugasnya tikad hanya terbatas pada apa yang ia berika di kelas. Meskipun tanggung jawab terhadap sistem pengajaran, kurikulum, dan perkara-perkara yang bekaitan dengannya bukanlah berada dipundaknya. Hanya saja, hal itu tidak otomatis membebaskan dari peran serta dan uasaha perbaikan.
Jika dalam pengajarannya murid-murid mempunyai permasalahan seperti mengantuk, gurau, merasa tidak mampu dengan apa yang disampaikan guru, maka seorang guru harus cepat tanggap dengan apa yang terjadi sehingga dapat dicari penyelesaiannya dengan baik.
10.  Bergaul secara baik dengan murid
Murid adalah obyek dan sasaran utama dari proses aktifitas belajar mengajar dan pendidikan. Oleh karena itu, dialah unsur utama yang dengannya seorang guru berinteraksi. Kurikulum, sistem pengajaran dan lain sebagainya, dibuat untuk merealisasikan tujuan pengajaran dan pendidkan bagi murid. Berpijak pada posisi murid dalam proses belajar mengajar, maka perlu diletakkan garis-garis besar dan kaidah-kaidah berinteraksi dengan murid agar tujuan pengajaran dan pendidikan bisa terealisasikan.
Kebaikan dan interaksi guru merupakan kata yang luas yang meliputi, menghormati dan menghargai murid, memuji murid yang berbuat baik, berperilaku adil di antara murid-murid, proporsional dalam mengoreksi kesalahan dan memberi perhatian pada murid. Sehingga dalam pelaksanaan pembelajaran dapat berjalan dengan baik.
11.  Rendah hati ( tawadhu’)
Mengajar merupakan salah-satu peluang untuk menjadi tinggi dan terkenal. Seorang guru bisa saja dipenuhi leh peasaan bangga, tinggi hati, terutama sifat ujub. Oleh karena itu Hadlrotus syaikh Muhammad Hasyim Asyari dalam kitabnya Adabul ‘alim wal mutaalim menekankan untuk selalu bersikap rendah hati ( tawadhu’).
12.  Selalu mendoakan kebaikan untuk murid-muridnya.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”(QS Al-Baqoroh 2:186)
Allah menganjurkan kepada umat Islam dan orang orang yang beriman untuk senantiasa berdoa, karena doa merupakan bentuk keyakinan diri bahwa tidak ada satu makhluk pun yang dapat mendapatkan apa yang diinginkannya kecuali atas idzin Allah. Begitu juga seorang guru, seyogyanya selalu mendoakan murid-muridnya agar selalu dalam lindungan Allah, dan menjadi manusia yang pintar baik akal, hati dan social. Sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai dengan maksimal.
Mukhtar Zaini Dahlan
Mahasiswa Pasca Sarjana STAIN Jember
Referensi:
Abdullah, Adduweisy, DR Muhammad. 2008. Edisi Indonesia_ Menjadi guru yang sukses dan berpengaruh. Surabaya: pustaka ElBA.
Affandi, Choer. 2008. La Tahzan Innallaha Maana. Bandung: Mizania.
Az- Zarnuzi, Syaikh. Ta’limul muta’alimi. Surabaya: Al-hidayah
Hasyim, Muhammad Asyari. Adabul Alim wal Muta’alim. Jombang: Maktabah Turost Al-Islami.
Nawawi. Al-majmu’ Syarhul Muhadzab. Surabaya: Al-hidayah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar